img

BERGERAK DAN TUMBUH BERSAMA INSTITUT DIAN/INTERFIDEI

[WEBINAR MENYAMBUT 30 TAHUN INTERFIDEI] KAMIS, 27 MEI 2021, Institut DIAN/Interfidei menyelenggarakan seri pertama dari serial webinar dalam rangka menyambut hari ulang tahunnya yang ke tiga puluh. Pada usia yang memasuki tiga dekade ini, Interfidei mengangkat tema “Agama dan Bergama untuk Perdamaian” serta sub tema “Beragama secara Sehat, Saling Menghargai, Mengasihi, dan Bersolidaritas untuk Kehidupan Bersama yang Damai di antara sesama Manusia, Alam Semesta dan Sang Pencipta.” Tema dan sub tema tersebut merupakan refleksi 30 tahun perjalanan Interfidei sebagai sebuah lembaga yang mengusahakan dialog antar iman (keyakinan) di Indonesia dengan dilatari oleh beragam konteks dan peristiwa yang terjadi selama itu.

Kecenderungan intoleransi dan fundamentalisme sempit di dalam agama dan keyakinan dari masa ke masa mendorong Interfidei untuk terus kreatif dan membangun kegiatan-kegiatan kolaboratif dalam merawat kehidupan keberagaman dan keberagamaan di Indonesia. Pencapaian Interfidei pada usia yang genap 30 tahun ini tidak terlepas dari orang-orang di belakangnya yang bekerja dengan sepenuh hati dan sukacita. Kami mengundang beberapa alumni, staf dan sahabat Interfidei untuk berbagi pengalaman mereka selama berjalan beriringan dengan Interfidei. Mereka adalah Bapak  St. Sunardi (Dosen pada Program Pasca Sarjana - Universitas Sanata Dharma), Bapak Ahmad Suaedy (Dekan Fakultas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia), Bapak Zuly Qodir (Dosen pada Program Doktor Politik Islam-Ilmu Politik - Universitas Muhammadiyah Yogyakarta), Ibu Masruchah (Komisioner Komnas Perempuan), Bapak M. Imam Aziz (Staf Khusus Wakil Presiden RI), Ibu Listia Suprobo (Anggota Perkumpulan Pengembang Pendidikan Interreligius/PaPPIRus), dan Ibu A. Elga J. Sarapung (Direktur Institut DIAN/Interfidei)

Webinar seri satu yang bertajuk “Berbagi pengalaman, ide dan berefleksi kritis bersama para alumni dan sahabat Institut DIAN/Interfidei tentang bagaimana Gerakan Antar-Iman dalam konteks sekarang dan ke depan?" dimoderatori oleh Bapak Budhy Munawar-Rahman (Dosen Islamologi pada STF Driyarkara Jakarta). Webinar berlangsung kurang lebih dua setengah jam dan dihadiri oleh sekitar 110 peserta yang berasal dari seluruh Indonesia dan beberapa kolega Interfidei yang berada di Jerman, Amerika dan Tokyo.

Sesi Webinar dibuka dengan do’a oleh seorang pemuda Kong Hu Chu, saudari Vivi Shelvia, lalu dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya 3 Stanza, dan sambutan singkat dari Ketua Badan Pengurus Institut DIAN/Interfidei, Prof. K.H. Machasin.

Bapak Budhy Munawar-Rachman memantik diskusi dengan memaparkan sedikit tentang sejarah Interfidei.

"Kita saat ini berada di dalam situasi yang jauh lebih kompleks daripada situasi di awal-awal didirikannya Interfidei. Interfidei lahir pada 10 Agustus 1991 dan selama 30 tahun ini telah melintasi beberapa zaman; zaman orde baru, zaman reformasi, dan zaman pasca reformasi. Masing-masing dengan presiden yang beda-beda dan masalah yang berbeda-beda juga." jelasnya.

Kala itu, memang, Interfidei didirikan di dalam situasi hubungan antar agama yang penuh tantangan dan menjadi satu-satunya organisasi lintas iman yang muncul ketika itu untuk membangun suatu kolaborasi  antar iman yang mendorong akan adanya relevansi agama-agama dengan situasi di Indonesia. Interfidei telah memulai kerja-kolaborasi dari tingkat lokal di Yogyakarta, tingkat nasional di Indonesia dan hingga tingkar regional di Asia untuk isu lintas iman. Sebuah isu yang kurang akrab di telinga masyarakat Indonesia. Menariknya, Interfidei secara tegas membedakan isu yang diangat, yaitu isu lintas iman (inter-faith), bukan lintas agama (inter – religion). Sebab, dengan perspektif lintas iman kita bisa memahami kekayaan rohani dan spiritualitas dari iman yang dihayati oleh orang-orang yang beragama berbeda-beda di Indonesia.

Interfidei mendorong dialog antara Agama dan Politik

Menurut Ahmad Suaedy, Interfidei saat itu menjadi lembaga inter-faith yang mampu mengangkat dialog antara agama dan politik, politik yang dimaksudkan di sini adalah politik kebangsaan dan politik keadilan.

“Agama sering dianggap sangat private, maka dialog hanya terjadi antar pemimpin agama secara formalitas saja. Namun, ternyata Interfidei mencoba membangun dialog yang mengarah kepada demokratisasi dan keterbukaan. Itu dicontohkan oleh adanya tokoh-tokoh seperti Th. Sumartana, Gus Dur, dan Ibu Gedong.  Agama harus tampil dan berdialog dengan politik di ranah publik untuk berhadapan secara langsung dengan meluruskan pemilik modal dan kepentingan-kepentingan partai. “

Interfidei mendorong hubungan antar iman berkembang di Indonesia

Zuly Qodir, bergabung dengan Interfidei saat ia menjadi kader muda Muhammadiyah, Ia membagikan pengalamannya selama bersama Interfidei tentang perjalanan berkeliling ke daerah-daerah konflik yang ada di Indonesia seperti ke Kalimantan Barat, Palangkaraya, Ende, dan Papua. Pertemuan-pertemuan antar iman waktu itu adalah pertemuan yang sangat eksklusif, menurutnya, sebab tidak banyak orang memiliki keberanian untuk melakukan pertemuan semacam itu. Waktu itu pertemuan antar pemimpin agama-agama hanya menjadi serial monolog antara pemerintah dan masyarakat.

“Saat Interfidei muncul, gerakan dialog yang melibatkan masyarakat di aras bawah dan elit-elit agamawan, tidak ada yang namanya “keterpaksaan” dan anggaran yang diberikan oleh pemerintah. Sebab selama itu, dialog yang didesain oleh negara, selalu berakhir dengan kompromi kedua belah pihak (dari agama yang berbeda, red). Sementara itu, Interfidei mendorong untuk terjadinya dialog-dialog yang mengarahkan kepada adanya titik temu dan saling menghargai, baik dari mereka yang terlibat pertemuan maupun di luar itu. Dialog-dialog dengan model seperti itu merupakan embrio berkembangnya civil society yang menuju kepada civil religion.” Jelas beliau.

 

 

Interfidei mendorong pada dialog melalui Gagasan dan Konsep

Listia membagikan pengalamannya selam berada di Interfidei pada tahun 2002-2009. Ia membagikan pengalamannya yang menarik tentang perjalanannya berproses di Interfidei. Ia mengatakan bahwa, hal yang menarik dari Interfidei adalah Interfidei selalu bergerak dengan konsep. Ada kajian, proses membangun gagasan, dan melahirkan tulisan. Bagi Listia dan teman-temannya yang saat itu menjadi mahasiswa, aktivitas tersebut sangat menyenangkan. Ada banyak kegiatan yang tidak menjauhkan mahasiswa dari masalah hidup.

“Di dalam proses membangun gagasan, menulis dan menyebarkannya, itu  seperti sebuah alur yang bergerak, namun gerakannya tidak secepat alur yang terjadi dewasa ini. Substansi yang mengedepankan kemanusiaan jauh lebih terasa ketika itu. Di dalam gerakan ada perasaan yang muncul bahwa satu kelompok adalah bagian dari kelompok lain. Ketika ada persoalan seperti misalnya masalah fundamentalisme, dalam gerakan interfaith problem tersebut bukanlah masalah satu agama saja, tetapi agama yang lain ikut mendiskusikan persoalan itu dan menjadikanya sebagai persoalan bersama untuk diselesaikan secara bersama-sama. Hal itulah yang menjadikan teman-teman di (jaringan) daerah menjadi sangat berkesan. Contoh, di Makassar ada salah satu anggota jaringan Interfidei yang menggunakan cadar. Hal itu, memberikan kesempatan kepada jaringan Interfidei yang lain, yang beragama Kristen, untuk belajar dan memahami keberadaan teman cadar tersebut. Hal-hal seperti itu dapat membantu membuka cara pikir atau perspektif tentang sebuah konsep. Dan Interfidei mendorong advokasi melalui tulisan dan buku-buku. Misalnya, saat itu muncul isu tentang Konghucu. Interfidei menerbitkan buku dan  hal itu menjadi sebuah media yang mempertemukan gagasan Konghucu dengan masyarakat luas.” Paparnya.

Interfidei mendorong dialog lintas isu sosial

Masruchah, salah satu sahabat Interfidei menerangkan bagaimana Interfidei berkolaborasi untuk mendorong dialog tentang isu-isu perempuan dan hak reproduksi. Ia menjelaskan bahwa, spirit agama dan beragama itu adalah untuk melakukan transformasi kemanusiaan dari ketimpangan sosial kepada keadilan, dari kezaliman kepada kemaslahatan. Dalam konteks ini, peran agama-agama, di dalam Interfidei saat itu mengangkat isu tentang bagaimana agama membincang soal kesehatan reproduksi perempuan.

“Saya waktu itu sedang di Lembaga Kajian Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdhatul Ulama DIY, dan di Yayasan Kesehatan Fatayat punya kajian itu dan Interfidei punya kajian yang concern terhadap agama-agama maka ketika itu kami melakukan dialog tentang bagaimana isu tersebut bisa menjadi sebuah kerja bersama yaitu mendialogkan persoalan sosial kemanusiaan,khususnya perempuan yang rentan dengan diskriminasi dan kekerasan karena separoh dari penganut agama adalah perempuan. Bagi saya, perjumpaan di dalam Interfidei bukan hanya perjumpaan teks-teks agama, melainkan perjumpaan analisis sosial tentang isu-isu perempuan dan anak-anak perempuan yang rentan dengan diskriminasi dan kekerasan terutama tentang hak reproduksinya. Saat itu dialog melibatkan agamawan, aktivis sosial, akademisi dan perempuan (korban-red) secara langsung dari diskriminasi dan kekerasan yang dimaksud.” Jelasnya.

 

Interfidei terus Optimis Membangun Dialog Lintas Iman

Elga Sarapung, selaku Direktur Institut DIAN/Interfidei menyampaikan optimismenya tentang Gerakan Antar Iman di Indonesia ke depan. Menurutnya, selama 30 tahun ini, ada masa-masa dimana Interfidei merasa pesimis. Ada perubahan yang sangat signifikan terjadi di dalam dunia kampus, yaitu ada perubahan pola hidup anak muda, mahasiswa, dan aktivis.

“Dulu kalau kita undang 25 orang untuk datang diskusi, biasanya yang datang justru 75 orang, kantor (Interfidei, red) sampai penuh hingga di luar pada lesehan. Suatu waktu pernah terjadi sebaliknya, kita undang 50 orang, syukur yang datang 15 orang.” Ujarnya.

Facebook dan segala model sosial media muncul sekarang ini dan perubahan interaksi sosial pun terjadi. Perubahan konteks mempengaruhi pola dan gaya hidup anak muda, mahasiswa dan aktivis saat ini. Padahal, menurut Elga, lembaga seperti Interfidei didirikan oleh anak-anak muda, aktivis, dan mahasiswa.

“Banyak anak muda yang ingin terlibat di dalam kegiatan lintas iman, tetapi substansinya apa ? Apakah hanya gaya-gayaan atauhanya untuk diunggah di media sosial?”

Menurut Elga, Interfidei bergumul dan melakukan kerja-kerja dimana pesan (interfaith, red) bisa masuk, dijiwai, dan dilakukan oleh anak muda. Lima belas tahun yang lalu, Interfidei sudah berkomitmen bukan hanya untuk membangun jembatan perdamaian baik antar agama maupun intra agama yang memiliki perbedaan aliran, mazhab atau denominasi, tetapi juga menjembatani dialog tentang perbedaan teologis dan esensi dari misi agama-agama sehingga wajah agama yang benar-benar rahmatan lil alamin, damai sejahtera, dan keadilan itu ada.

“Jika berpijak pada pengalam-pengalaman dialog yang sudah terjadi, kami optimis bahwa banyak generasi muda yang masih sangat haus dan butuh akan gerakan-gerakan semacam Interfidei. Misalnya ketika Interfidei memperluas kegiatan-kegiatannya dengan isu-isu yang berkembang saat ini seperti isu human trafficking, dimana isu tersebut erat kaitannya dengan isu gender justice, pernikahan anak di bawah umur, dan pemiskinan perempuan. Di sana sangat terlihat jelas bahwa ada persoalan keadilan dan kemanusiaan yang perlu diperhatikan.Selain itu, Interfidei juga mendorong tentang isu "Papua Tanah Damai", dimana kami concern untuk membangun dialog damai untuk Papua melalui pendidikan mengelola dan memaknai perbedaan.” Jelasnya.

Kerja kolaborasi Interfidei dengan generasi muda banyak dilakukan melalui program pelatihan di daerah-daerah, dan juga program sekolah lintas iman yang telah dua belas tahun dilaksanakan. Interfidei konsisten mendorong pemuda untuk melakukan "udar prasangka" atau "bokar prasangka", dimana hal tersebut membantu pemuda bahkan pemimpin agama-agama untuk bersikap terbuka dan membangun dialog yang berkelanjutan.

Kegiatan Webinar seri I dalam rangka HUT 30 Interfidei tersebut diakhiri dengan penyampaian kesan-kesan oleh sahabat-sahabat Interfidei dari berbagai daerah.


Oleh: Ruwaidah Anwar