Daniel Dhakidae di Mata Anak Muda Papua
Sedikit catatan kenangan dan pengenalan saya tentang Daniel Dhakidae, pertama kali saya membaca nama Daniel Dhakidae dari brosur Interfidei yang disodorkan Dr.Th Sumartana sekitar tahun 1998. Nama itu ada dalam struktur Dewan Pengurus Institut Dialog Antar-Iman di Indonesia (Institut Dian/Interfidei) JOGJAKARTA. Ada nama Eka Dharmaputera, Th Sumartana, Zulkifly Lubis dan lain-lain. Lalu ada Dewan Pelaksana yang terdiri dari Dr. Th. Sumartana, Elga Sarapung, Zuly Qodir, Ahmad Suaedy, St. Sunardi, dan lain-lain. Saya heran ada orang dengan nama marga yang bagi saya "aneh" dan baru di telinga saya.
Ternyata Proyek Penelitian dan Studi tentang "Hubungan Antar-Iman dan Antar-Etnik di Kalangan Mahasiswa di JOGJAKARTA, di mana saya adalah salah satu anggota peneliti proyek yang didanai oleh LP3ES Jakarta itu, pak Daniel adalah pendiri dan pengurus inti lembaga penelitian tersebut yang bergerak di bidang Ekonomi dan Sosial Budaya di Indonesia. Setelah itu pertemuan berlanjut pada seminar hasil penelitian tersebut yang melibatkan 50 orang mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Yogyakarta, kerjasama LP3ES dan Institut DIAN/Interfidei. Acara tersebut berlangsung di Hotel Jayakarta, di sisi Jalan Adisucipto. Itulah pertama kali saya berkenalan dengan sosok Daniel Dhakidae yang sudah pernah kubaca tulisannya dan sebelumnya sudah pernah mendengar namanya.
Kesan awal wajah beliau mirip kebanyakan orang India. Saya duga begitu. Dalam acara itu, ibu Elga menyapanya dengan Bung Daniel Dhakidae, Putra Bajawa. Dari situlah kami mulai kenal Bung Daniel. Lalu, tahun 1998 ketika budayawan YB. Mangunwijaya wafat, sejumlah tokoh datang memberi penghormatan, mulai dari wartawan senior, Aristides Katoppo, Ibu Gedong Bagoes Oka hingga BJ.Habibie, Wapres RI yang ke 6 (1995-1998), hadir, dan banyak lagi. Sekian kali kami bertemu setelah pertemuan pada masa reformasi.
Secara fisik, ketika Anda berpapasan dengan Beliau tentu dikira Daniel orang India. Padahal anak Flores, Bajawa, dan bila berbicara selalu dengan aksen Flores yang kental, termasuk dengan cerita humor. Semua itu tentu menghiasi seluruh cerita bila menjadi kawan bercakap dengan pak Daniel.
Pak Daniel serius sekali ketika dalam percakapan, ada penggunaan istilah asing, terutama istilah-istilah dalam bahasa Latin, Jerman atau Belanda. Akan diperiksa secara saksama padanannya masing-masing, juga nama tokoh, tempat dan waktu. Sampai di sini kita sudah mulai segan dengan kecendekiawannya. Daniel, Ignas Kleden, Ery Seda, Prof. Herman Yohanes, Alex Lanur, dan sederet cendekiawan yg berasal dari NTT, khususnya Flores yang punya andil besar di banyak bidang. Hal itu telah dibuktikan oleh Daniel yang menyumbang salah satu buku monumentalnya, "Cendekiawan dan Kekuasaan di Era Politik Orde Baru (Gramedia, 2007). Ia Juga penulis, editor dan pemberi pengantar sederet buku terbitan LP3ES, atau Gramedia, Jakarta, dan juga di penerbit lain.
Kesan awal wajah beliau mirip kebanyakan orang India. Saya duga begitu. Dalam acara itu, ibu Elga menyapanya dengan Bung Daniel Dhakidae, Putra Bajawa. Dari situlah kami mulai kenal Bung Daniel. Lalu, tahun 1998 ketika budayawan YB. Mangunwijaya wafat, sejumlah tokoh datang memberi penghormatan, mulai dari wartawan senior, Aristides Katoppo, Ibu Gedong Bagoes Oka hingga BJ.Habibie, Wapres RI yang ke 6 (1995-1998), hadir, dan banyak lagi. Sekian kali kami bertemu setelah pertemuan pada masa reformasi.
Secara fisik, ketika Anda berpapasan dengan Beliau tentu dikira Daniel orang India. Padahal anak Flores, Bajawa, dan bila berbicara selalu dengan aksen Flores yang kental, termasuk dengan cerita humor. Semua itu tentu menghiasi seluruh cerita bila menjadi kawan bercakap dengan pak Daniel.
Pak Daniel serius sekali ketika dalam percakapan, ada penggunaan istilah asing, terutama istilah-istilah dalam bahasa Latin, Jerman atau Belanda. Akan diperiksa secara saksama padanannya masing-masing, juga nama tokoh, tempat dan waktu. Sampai di sini kita sudah mulai segan dengan kecendekiawannya. Daniel, Ignas Kleden, Ery Seda, Prof. Herman Yohanes, Alex Lanur, dan sederet cendekiawan yg berasal dari NTT, khususnya Flores yang punya andil besar di banyak bidang. Hal itu telah dibuktikan oleh Daniel yang menyumbang salah satu buku monumentalnya, "Cendekiawan dan Kekuasaan di Era Politik Orde Baru (Gramedia, 2007). Ia Juga penulis, editor dan pemberi pengantar sederet buku terbitan LP3ES, atau Gramedia, Jakarta, dan juga di penerbit lain.
Ketika diminta untuk menjadi moderator pada waktu Presiden Gus Dur ke Salatiga pada tahun 2000, ia menolak tidak hadir karena ada acara lain, tetapi rekannya Dr. Th. Sumartana menggenggam telepon kantor, membesarkan speaker lalu bersama Elga Sarapung meyakinkan dia "...Bung harus hadir. Ini momentum Gus Dur jadi presiden, akan disiarkan ke semua Channel Televisi. Bung terkenal" . Dari situ momentum ketiga saya ikuti dan tahu, siapa itu Daniel, putra Bajawa.
Kemudian saya di Jakarta tahun 2000, dan 2005 untuk suatu acara MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Konghucuu Indonesia) di hotel Borobudur, dan Acara dari Search for Common Ground Indonesia saya dipertemukan di Coffee Been di Sarinah, kami bertiga, Daniel, saya dan Elga bercerita lepas. Dengan kepolosan mengeritik kopi yang dijamu para waitress. Kata saya, "kopi gelas kecil begini, kami di Papua, minum lima kali baru hitung satu.... Hahahaa. Ibu Elga bilang "Sem jangan gitu ah!" Daniel, hati-hati juga ajak Sem makan, apalagi dengan jamuan ikan teri di Papua disebut ikan puri, si Sem akan lontarkan kritik, ikan teri ini kalau di Papua untuk makanan ayam ...ha ha ha. Kami serentak buat koor, tertawa. Daniel kalau tertawa selalu menggoda kami untuk tertawa juga. Lain lagi pengalaman di Kupang tahun 1999. Kami menghubungi Bung Daniel untuk menjadi salah satu pembicara dalam acara Semiloka, "Pencegahan Dini Konflik Menjelang Pemilu Dengan Menggunakan Instrumen SARA". Saya telepon beliau. Tetapi beliau minta maaf karena mau ke luar negeri ada acara di sana. Lalu kami dengan Prof. Kautzar Ashari Noor, Prof. Franz Magniz Suseno serta Dr. Th Sumartana saja . Kami meminta maaf kepada peserta yang pada umumnya aktivis lalu ada yang spontan menanggapi ketidakhadiran Bung Daniel. Katanya: "begitu suda orang Flores dan Timor. Kalau sukses tidak pernah pulang daerah. Mereka malu dengan kampung sendiri. Kalau gagal baru pulang kampung." Itulah menurut saya auto kritik dari adik-adiknya terhadap Bung Daniel. Ini juga menjadi refleksi bagi orang hebat NTT agar bawa ilmu kembali ke negeri sendiri.
Kemudian saya di Jakarta tahun 2000, dan 2005 untuk suatu acara MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Konghucuu Indonesia) di hotel Borobudur, dan Acara dari Search for Common Ground Indonesia saya dipertemukan di Coffee Been di Sarinah, kami bertiga, Daniel, saya dan Elga bercerita lepas. Dengan kepolosan mengeritik kopi yang dijamu para waitress. Kata saya, "kopi gelas kecil begini, kami di Papua, minum lima kali baru hitung satu.... Hahahaa. Ibu Elga bilang "Sem jangan gitu ah!" Daniel, hati-hati juga ajak Sem makan, apalagi dengan jamuan ikan teri di Papua disebut ikan puri, si Sem akan lontarkan kritik, ikan teri ini kalau di Papua untuk makanan ayam ...ha ha ha. Kami serentak buat koor, tertawa. Daniel kalau tertawa selalu menggoda kami untuk tertawa juga. Lain lagi pengalaman di Kupang tahun 1999. Kami menghubungi Bung Daniel untuk menjadi salah satu pembicara dalam acara Semiloka, "Pencegahan Dini Konflik Menjelang Pemilu Dengan Menggunakan Instrumen SARA". Saya telepon beliau. Tetapi beliau minta maaf karena mau ke luar negeri ada acara di sana. Lalu kami dengan Prof. Kautzar Ashari Noor, Prof. Franz Magniz Suseno serta Dr. Th Sumartana saja . Kami meminta maaf kepada peserta yang pada umumnya aktivis lalu ada yang spontan menanggapi ketidakhadiran Bung Daniel. Katanya: "begitu suda orang Flores dan Timor. Kalau sukses tidak pernah pulang daerah. Mereka malu dengan kampung sendiri. Kalau gagal baru pulang kampung." Itulah menurut saya auto kritik dari adik-adiknya terhadap Bung Daniel. Ini juga menjadi refleksi bagi orang hebat NTT agar bawa ilmu kembali ke negeri sendiri.
Selamat Jalan Pak Daniel.
Dari Samuel Asse Bless di Sorong, Papua Barat
