Pawai Bunga dan Keheningan yang Hidup: Menyaksikan Puncak Tipitaka Chanting di Borobudur
Acara puncak Indonesia Tipitaka Chanting di kawasan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, berlangsung pada 2026, menghadirkan pemandangan yang sarat makna sekaligus menggetarkan bagi siapa pun yang menyaksikannya, termasuk mereka yang bukan berasal dari kalangan umat Buddha. Rangkaian acara dimulai dengan pawai dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur, sebuah perjalanan yang meski hanya ditempuh dengan berjalan kaki, terasa sarat dengan simbolisme spiritual. Sepanjang perjalanan para peserta mengenakan pakaian serba putih dan membawa setangkai bunga di tangan, menciptakan pemandangan yang begitu bersih dan menyatu di sepanjang jalan. Ribuan umat berjalan bersama dalam barisan yang tertib, sementara lantunan doa dan paritta terus mengalun mengiringi setiap langkah.
Bunga yang dibawa para peserta, meski tampak sederhana, memiliki makna tersendiri, mengingatkan pada sifat segala sesuatu yang indah namun bersifat sementara, sebuah pesan yang baru sepenuhnya dipahami setelah mendengar ceramah Dhamma pada malam harinya. Pawai ini terasa menggetarkan bagi para pengamat yang tidak sepenuhnya memahami makna teologis di baliknya, seolah menjadi simbol perjalanan batin dari satu titik menuju pencerahan, sebagaimana filosofi yang menghubungkan kedua candi tersebut.
Setibanya di pelataran Borobudur, suasana semakin khidmat karena hari itu bertepatan dengan puncak peringatan Hari Asadha Mahapuja 2570 BE/2026, momen yang mengenang khotbah pertama Buddha setelah mencapai Pencerahan Sempurna. Ribuan umat Buddha dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari luar negeri, memadati pelataran candi malam itu, menciptakan lautan manusia yang tenang namun penuh kekhidmatan di antara batu-batu kuno yang telah berdiri lebih dari seribu tahun.
Ketika lantunan syair suci Tipitaka mulai dikumandangkan oleh para Bhikkhu dan umat, tercipta sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata: sebuah keheningan yang justru hidup. Di tengah dunia yang serba cepat dan bising, ruang di sekitar Borobudur malam itu terasa seperti jeda waktu, tempat setiap orang diajak untuk berhenti sejenak dan menoleh ke dalam diri sendiri. Kehadiran sejak pawai dari Candi Mendut hingga malam puncak itu saja sudah cukup memberi kesan mendalam tentang bagaimana sebuah tradisi keagamaan bisa menyatukan begitu banyak orang dalam satu tujuan batin yang sama.
Puncak acara adalah ceramah Dhamma dari Bhante Pannavaro Mahathera pada malam penutupan tersebut. Alih-alih menyampaikan doktrin yang kaku, Bhante mengajak jemaah untuk memahami inti ajaran Buddha sebagai cara memandang penderitaan secara jujur dan realistis. Bagian yang paling membekas adalah kisah perjalanan hidup Pangeran Siddharta Gautama. Selama hampir tiga dekade, Siddharta hidup dikelilingi kemewahan istana yang sengaja dirancang ayahnya agar sang pangeran tidak pernah melihat sisi gelap kehidupan. Namun begitu ia keluar dari tembok istana untuk pertama kalinya, kenyataan tentang usia tua, sakit, kematian, dan penderitaan manusia tidak bisa lagi disembunyikan. Ada sesuatu yang universal dalam kisah ini, yaitu keberanian untuk melihat kenyataan pahit, alih-alih terus bersembunyi di balik kenyamanan.
Bhante menekankan bahwa keistimewaan Siddharta bukan terletak pada statusnya sebagai pangeran, melainkan pada kepekaan moralnya yang luar biasa. Ia sanggup merasakan penderitaan orang lain meski tidak pernah mengalaminya secara langsung, dan pada akhirnya memilih meninggalkan segala kemewahan serta kekuasaan demi mencari akar persoalan penderitaan manusia. Enam tahun menjalani laku pertapaan membawanya pada Pencerahan Sempurna. Kisah ini menjadi cermin bagi siapa pun yang kerap terjebak dalam zona nyaman, enggan menghadapi masalah secara langsung, dan lebih memilih jalan pintas ketimbang menyelami akar persoalan.
Bagian yang paling mengubah cara pandang banyak peserta adalah penjelasan bahwa Buddha tidak sekadar menyatakan adanya penderitaan, tetapi juga menegaskan bahwa setiap penderitaan memiliki sebab dan karenanya dapat diakhiri. Ini jauh dari kesan pesimistis yang sering melekat pada ajaran tentang dukkha. Justru sebaliknya, ajaran ini menawarkan harapan yang sangat rasional: penderitaan bukan takdir yang harus diterima pasrah, melainkan persoalan yang bisa diselesaikan jika seseorang mau menelusuri akar penyebabnya. Perumpamaan yang digunakan Bhante tentang “Koreng” (re: lapisan kerak keras yang terbentuk di permukaan kulit saat luka mulai mengering ) menjadi salah satu bagian yang paling membekas. Menggaruk “Koreng” memang memberi kenikmatan sesaat, tetapi tidak pernah benar-benar menyembuhkan luka, tidak hanya pengobatan yang tuntas tetapi juga menghilangkan dorongan untuk terus menggaruk. Analogi sederhana ini mengajak siapa pun merenungkan kebiasaan mencari pelarian sesaat dari masalah alih-alih menghadapinya secara tuntas.
Bhante juga mengulas khotbah kedua Buddha yang membahas ketidakkekalan jasmani, perasaan, pikiran, dan kesadaran. Melalui rangkaian pertanyaan sederhana namun mendalam, umat diajak menyadari bahwa manusia bahkan tidak sepenuhnya mampu mengendalikan tubuh maupun pikirannya sendiri. Dari pemahaman ini lahirlah konsep anatta, bahwa segala sesuatu yang dianggap “milik diri” sesungguhnya terus berubah mengikuti hukum alam. Di tengah budaya modern yang serba menuntut pencapaian dan target, penjelasan ini terasa sangat relevan. Betapa sering manusia menuntut hidup harus berjalan sesuai rencana, dan ketika kenyataan berbeda, yang muncul adalah kekecewaan bahkan kemarahan. Ajaran ini menawarkan pendekatan yang lebih realistis: mengembangkan kejujuran, cinta kasih, dan ketenangan batin melalui latihan meditasi, sehingga persoalan dapat dilihat lebih jernih tanpa dikuasai oleh dorongan emosi sesaat.
Perayaan puncak Tipitaka Chanting di Borobudur, meski hanya berlangsung semalam bagi sebagian pengamat, menunjukkan bahwa toleransi sejati tidak cukup hanya dengan membiarkan orang lain menjalankan keyakinannya, tetapi perlu diwujudkan dengan hadir, mendengarkan, dan berusaha memahami. Pelajaran besar yang dapat dipetik dari peristiwa ini adalah bahwa kedamaian bukan lahir dari kemampuan mengendalikan dunia luar, melainkan dari kebijaksanaan memahami diri sendiri. Bagi siapa pun di luar komunitas Buddha yang turut menyaksikan, pengalaman ini memperkaya bukan karena berpindah keyakinan, melainkan karena menemukan nilai-nilai universal, kejujuran menghadapi masalah, kesadaran akan ketidakkekalan, dan pentingnya menyelesaikan akar persoalan, yang ternyata relevan bagi siapa saja, apa pun latar belakang keyakinannya.
Ditulis oleh Muammar Gunawan, Mahasiswa PPL/PKL di Interfidei, Program studi Aqidah dan Filsafat Islam, Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Kudus
