img

Krisis Ekologis dan Keberanian Iman: Suara dari Sumatera dalam Gerakan Antar-Iman Indonesia

Pada Jumat, 12 Desember 2025, Jaringan Antar-Iman Indonesia menyelenggarakan Talkshow “Krisis Ekologis & Keberanian Iman” sebagai ruang refleksi dan solidaritas atas bencana banjir dan longsor yang melanda berbagai wilayah di Sumatera. Kegiatan ini menghadirkan suara langsung dari para pejuang kemanusiaan lintas iman di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.

Talkshow ini diselenggarakan bukan hanya untuk mendiskusikan banjir sebagai bencana saja, tetapi untuk mendengarkan kesaksian nyata yang sering luput dari pemberitaan media, sekaligus menegaskan bahwa para penyintas di Sumatera tidak sendirian. Ada jejaring antar-iman di Indonesia yang hadir untuk menemani, mendukung, dan memperjuangkan keadilan bersama sebagai sesama saudara.

Sumatera Utara: Negara Absen, Rakyat Bertahan Sendiri

Ferry Wira Padang, Direktur Aliansi Sumut Bersatu, menyampaikan kesaksian mendalam tentang dampak banjir dan longsor di Sumatera Utara. Wilayah seperti Tapanuli Tengah dan Sibolga menjadi daerah paling terdampak, sementara Medan dan Langkat juga mengalami banjir besar yang melumpuhkan seluruh aktivitas warga. Menurut Ferry, sepanjang ia tinggal di Medan, banjir kali ini adalah yang terparah.

Namun, yang paling menyakitkan adalah ketidakhadiran negara dalam masa tanggap darurat. Tiga hari pasca-banjir, warga Medan tidak mendapatkan akses air bersih. Beban penyintas—terutama perempuan dan anak—menjadi berlipat ganda: kesulitan minum, membersihkan rumah, dan menjaga kesehatan keluarga.

Di Sibolga dan Tapanuli Tengah, situasinya bahkan lebih ekstrem. Selama tiga hari pertama, banyak warga tidak makan dan minum, terpaksa meminum air alam yang tidak layak, dan memasak beras bercampur lumpur karena kelaparan. “Mereka tidak lagi peduli nasi itu berlumpur atau tidak,” ujar Ferry, “yang penting bisa bertahan hidup.”

Ironisnya, berbagai fasilitas negara—BASARNAS, Dinas Sosial, hingga helikopter milik TNI—tidak dimanfaatkan secara maksimal. Negara dinilai tidak siap dan tidak berempati, membiarkan masyarakat bangkit sendiri tanpa dukungan yang memadai.

Ferry juga menegaskan bahwa banjir dan longsor di Sumatera Utara tidak dapat dilepaskan dari dominasi korporasi yang merusak hutan, seperti PT Toba Pulp Lestari (TPL) dan perusahaan lain di wilayah Sibolga dan Tapanuli Tengah. Gelondongan kayu yang terbawa banjir hingga menghancurkan puluhan desa menjadi bukti nyata kerusakan ekologis sistemik, bahkan menyebabkan ada desa yang hilang dari peta.

Lebih jauh, ia mengkritik kebijakan pemerintah yang mewajibkan izin Kementerian Sosial bagi penggalangan donasi di atas Rp500 juta. Dalam situasi darurat kemanusiaan, kebijakan ini dinilai sebagai bentuk penindasan terhadap solidaritas rakyat.

Aceh: Bencana, Kebobrokan Kekuasaan, dan Rakyat yang Ditelantarkan

Dari Aceh, Teuku Kemal Fasya, dosen Universitas Malikussaleh (Unimal), menyampaikan refleksi tajam. Ia menilai banjir di Aceh sebagai peristiwa yang membongkar kebobrokan tata kelola kekuasaan, baik di tingkat pusat maupun daerah.

Wilayah seperti Langsa, Aceh Tamiang, Bener Meriah, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara mengalami keterputusan akses total. Banjir menyebabkan listrik dan internet padam bahkan di daerah yang tidak terdampak langsung—sebuah kondisi yang, menurutnya, tidak terjadi saat tsunami Aceh. Akibatnya, terjadi diskoneksi informasi dan bahkan kerusuhan sosial.

Teuku Kemal mengungkapkan bagaimana para pejabat tampak tidak berbuat apa-apa. Beberapa kepala daerah bahkan tidak berada di lokasi saat bencana terjadi, dan bantuan tidak kunjung datang hingga tiga hari pertama. Kondisi ini memicu penjarahan di Langsa dan Aceh Tamiang—bukan karena kriminalitas, tetapi karena orang-orang kelaparan dan ditelantarkan.

Ia membandingkan situasi ini dengan penanganan tsunami Aceh, ketika status bencana nasional segera ditetapkan dan bantuan internasional dibuka luas. Dalam kasus banjir Sumatera kali ini, status bencana nasional tidak kunjung ditetapkan, yang berdampak pada lambannya mobilisasi bantuan. Akibatnya, masyarakat terpaksa menengadahkan tangan demi bertahan hidup.

Keberanian Iman dan Solidaritas Antar-Iman

Melalui talkshow ini, Jaringan Antar-Iman Indonesia menegaskan bahwa krisis ekologis adalah krisis iman dan kemanusiaan. Ketika negara absen dan gagal melindungi rakyat, iman tidak boleh diam. Agama dan keyakinan dipanggil untuk hadir sebagai suara kenabian, membela penyintas, mengkritik ketidakadilan, dan merawat kehidupan bersama—manusia dan alam.

Talkshow ini menjadi bagian dari komitmen Gerakan Antar-Iman Indonesia untuk terus membuka ruang belajar bersama, mendengarkan suara dari akar rumput, serta menguatkan solidaritas lintas iman demi keadilan ekologis dan kemanusiaan yang bermartabat.