HOMETENTANG KAMIARTIKELPUBLIKASIBUKU TAMUPETA SITUS

 

In English

Tentang Kami
Institut Dialog Antar-Iman di Indonesia (Institut DIAN)

 

 

Nama Lembaga

Nama lembaga ini adalah Institut Dialog Antariman di Indonesia (Institut DIAN) atau Institute for Interfaith Dialogue in Indonesia (Interfidei), disingkat Institut DIAN/Interfidei. Lembaga ini beralamat di:

Banteng Utama 59
Perum Banteng Baru
Telp. (0274) 880149. Fax. (0274) 887864
Yogyakarta 55581
E-mail : dianinterfidei@yahoo.com
Website: http://www.interfidei.or.id

Logo

Logo Lembaga ini berupa sebuah DIAN, dengan warna merah dan dasar putih. “Dian” adalah sebuah lampu kecil, yang dapat memberi terang di tengah kegelapan. Semua orang adalah “Dian”, yang memberi terang bagi dirinya sendiri, bagi orang lain, dan bagi lingkungan di sekitarnya, yang menerima cahaya dari sumber yang satu, yaitu Tuhan.

Pendirian

HereInstitute for Interfaith Dialogue in Indonesia (Institut DIAN/Interfidei) didirikan pada 20 Desember 1991 di Yogyakarta, Indonesia dengan akte notaris no.38 (de jure), kemudian secara resmi dipublikasikan kepada masyarakat luas sebagai sebuah Lembaga (de facto), yaitu tanggal 10 Agustus 1992.

Visi

Terciptanya masyarakat sipil yang berakar pada nilai-nilai kemanusiaan dan demokrasi.

 

Selengkapnya


 

Fungsi dan Kedudukan

  • Institut ini tidak berkedudukan mewakili agama sebagai institusi, tetapi sebagai perkumpulan dari para pemeluk agama yang terikat oleh imannya.
  • Ruang lingkup kerja Institut ini tidak saja berkaitan dengan agama-agama resmi yang diakui pemerintah, akan tetapi juga melibatkan setiap wujud kepercayaan di masyarakat, seperti Konghucu, agama-agama suku, aliran kepercayaan.
  • Institut ini sebagai Forum dimana gagasan keimanan yang tumbuh dari diskursus dinamika kemajemukan, serta pengalaman konkrit di masyarakat didialogkan bersama


Mengapa “dialog antar iman”

  1. “Iman”, adalah ungkapan otentik dari korelasi antara keyakinan dan realitas kehidupan, yang berhubungan erat dengan pengalaman konkrit kehidupan sehari-hari. Karena itu bisa dibicarakan bersama dalam suasana bebas dan terbuka.
  2. “Iman” sebagai esensi agama, mendorong kepada dialog yang dilakukan setiap orang secara individual, bukan sebagai lembaga.
  3. “Dialog”, tidak bertujuan menghapus pebedaan, tetapi merupakan langkah menjalin komunikasi dan ungkapan kesediaan untuk saling mendengar, menghormati dan terbuka.
  4. “Dialog” mengandung konflik inheren pada hubungan antarmanusia, sekaligus menjanjikan sebuah akhir yang lebih dewasa untuk menghadapi dan menyelesaikan konflik.

 

 
Copyright © Institut DIAN/Interfidei 2006