Laporan Kegiatan
Zulkifly Lubis: Pribadi Unik dan Penuh Tauladan

Pada tanggal 2 Desember 2011, Institut DIAN/Interfidei bersama TEMPO menyelenggarakan Diksusi Terbatas dengan tema “Zulkifly Lubis: Sumbangannya Bagi Gerakan Mahasiswa dan Pendidikan Kritis di Indonesia". Bertempat di Ruang Yustisia, UC UGM lantai 2, diskusi ini menghadirkan dua orang pembicara yakni Fauzie Ridjal [Sahabat Zulkifly Lubis] dan Faruk HT [Staf Pengajar di Jurusan Sastra Indonesia, FIB, UGM] dengan dimoderatori oleh Listia.     

Peserta yang hadir kurang lebih 55 orang dari berbagai elemen masyarakat seperti LSM, anggota BEM, Lembaga Pers Mahasiswa, organisasi ekstra kampus seperti GMKI, HMI, pusat studi-pusat studi, dan lain-lain. Masing-masing peserta mendapatkan buku Zulkifly Lubis 1944-2011 : Sahabat Sepanjang Hayat yang diterbitkan TEMPO dalam rangka mengenang almarhum.  

Acara diawali dengan sambutan dari Rustam Fachry Mandayun sebagai perwakilan dari Tempo. Bapak Rustam menjelaskan bahwa acara diskusi ini cukup sederhana tetapi menjadi istimewa karena akan membicarakan sosok Zulkifly Lubis yang notabene tidak dikenal oleh masyarakat, tetapi beliau bisa menjadi tauladan dalam banyak hal di tengah krisis ketauladanan yang dialami bangsa Indonesia saat ini.

Moderator menegaskan kembali bahwa tujuan acara diskusi ini adalah untuk menghadirkan kembali Bapak Zulkifly Lubis dalam spiritnya, apa yang memperkuat dan apa yang memperlemah. Lebih lanjut bagaimana konteks perjuangan dan style gerakan mahasiswa pada saat itu dan keteladanan seperti apa yang ada pada diri Zulkifly Lubis.

Pembicara pertama, Faruk HT, memaparkan bahwa tidak mudah baginya untuk menemukan data-data tentang Zulkifly Lubis. Akan tetapi yang paling penting menurutnya adalah membicarakan kepribadian beliau untuk dijadikan tauladan bagi generasi muda sekarang. Berikut intisari dari kepribadian Zulkifly Lubis:

-          Tidak tergoda untuk “terkenal”

-          Sangat proporsional, mampu menempatkan diri dalam berbagai situasi

-          Seorang rasionalis yakni seorang yang sangat jernih melihat masalah, sangat bisa menentukan mana tujuan dan mana alat.

-          Ide tidak pernah berhenti hanya jadi ide, tapi harus direalisasikan, ide harus diwujudkan.

-          Setiap ada masalah, baik itu masalah administrasi, politik atau apapun selalu dicari jalan keluarnya.

-          Di atas rasionalitas Zulkifly percaya akan surga dan ingin menjadikan surga sebagai tujuan hidupnya, sehingga memilih kegiatan, komitmen, tujuan yang tidak menjauhkan dirinya dari surga. Nampkanya, bagi Zulkifly mendekati surga berarti bersikap lurus dan bermanfaat bagi orang lain.

Pembicara kedua, Fauzie Ridjal, mengawali pembicaraan dengan menyebutkan bahwa dia merupakan sahabat Zulkifly Lubis sejak tahun 1966 sampai meninggalnya. Persahabatan yang digambarkan sebagai “persahabatn yang terus menerus, tidak terputus dan tidak ada celanya, tidak ada pertentangan, tidak ada perselingkuhan, tidak ada saling mengejek, selama 50 tahun lebih”.

Selanjutnya Fauzie menjelaskan dengan panjang lebar konteks sosial, politik dan budaya yang melingkupi kehidupan seorang Zulkifly dari mulai saat beliau menjadi mahasiswa Fisipol UGM [tahun 60 an] sampai beliau pindah ke Jakarta untuk bergabung dengan Tempo [tahun 70 an].

Dalam paparannya Fauzie menegaskan bahwa Zulkifly Lubis sepanjang hidupnya berjuang untuk Indonesia yang modern dan demokratis. Beliau konsisten dalam memperjuangkan apa yang dicita-citakannya.

Keterlibatan Zulkifly dalam gerakan demokrasi dimulai pada tahun 1964 di mana situasi pada saat itu digambarkan sebagai puncaknya pertentangan antara golongan yang  “pro demokrasi” dan golongan yang “anti demokrasi”. Golongan pro demokrasi membentuk Liga Demokrasi yang didukung oleh Masyumi, Partai Sosialis Indonesia, Partai Katolik, sebagian Parkindo dan IPKI [Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia]. Dalam konteks ini Zulkifly adalah salah satu anggota Pemuda Pancasila [salah satu organisasi yang dilahirkan oleh IPKI] yang bergabung di Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia [KAPPI] dan Zulkifly didaulat menjadi salah satu ketua presidium. KAPPI inilah yang menentang dan mengajukan TRITURA yang berisi pertama bubarkan PKI,  kedua turunkan harga dan ketiga kabinet Dwikora harus direshuffle.

Setelah tumbangnya Orde Lama dan diganti dengan Orde Baru, perjuangan Zulkifly dan teman-temannya tidak lagi mendasarkan diri pada kesatuan aksi atau pada ormas-ormas yang mendukung kesatuan aksi, tapi membentuk grup diskusi. Sehingga pada tahun 1968 didirikanlah Diskukerja [Diskusi Generasi Muda Indonesia] di mana di dalamnya berkumpul semua golongan [Islam, Katolik, Kritsen dan Nasionalis] untuk mencairkan ketegangan antara golongan Islam dan non Islam pasca tumbangnya PKI.

Demo menentang Soeharto dimulai tahun1968 dengan mendirikan Pemuda Bergerak, di mana Zulkifly yang memimpin, untuk menentang dan menuntut supaya partai-partai dan pemerintah diperbaharui serta situasi politik diperbaharui. “Kita menuntut restorisasi politik, jangan hanya Orde Lama minus PKI, tapi harus dibuat pemimpin baru, situasi baru, itu tuntutannya”, demikian paparan Fauzie Ridjal.  Demo ini terus dilakukan dalam waktu yang cukup lama.

Setelah Pemuda Bergerak bubar, lalu didirikanlah Front Anti Korupsi. “Kita kirim delegasi ke istana, yang memimpin saudara Zul. Kita ikutkan Saudara Umul Landung, dan kelompok Rendra menghadap Soeharto”, ulas Fauzie. Demo-demo dilakukan oleh Front Anti Korupsi untuk menentang pemerintahan Soeharto yang korup.

Selain itu demo besar-besaran dilakukan di Yogya, dan juga di seluruh Indonesia, untuk merespons pembunuhan terhadap salah satu mahasiswa ITB dan salah satu warga di Yogya. Basis organisasinya adalah dengan mendirikan Kelompok Diskusi Gajah Mada, yang didirikan diantaranya oleh Zulkifly dan Parakitri Simbolon.

Setelah Kelompok Diskusi Gajah Mada bubar, Zulkifly Lubis mendirikan Majalah Mingguan Sendi, suatu majalah yang sangat keras mengkritik pemerintah. Pemimpin Umumnya Zulkifly Lubis dan Pemimpin Redaksi-nya Ashadi Siregar serta Pemimpin Perusahaannya Aini Khalid.

Sebelum pasca runtuhnya PKI dapat disingkat keterlibatan Zulkifly Lubis dalam memperjuangkan demokrasi ada pada 4 episode: Pemuda Bergerak, Front Anti Korupsi, Kelompok Diskusi Gajah Mada dan Majalah Sendi.

Pada tahun 73 Zulkifly hijrah ke Jakarta dan bekerja sebagai reporter Tempo. Tapi karena kejujuran dan usaha serta kerasnya, dia diangkat di manajemen sampai terakhir menjabat sebagai salah satu Komisaris PT Tempo Inti Media Tbk.  Sembari bekerja di Tempo, Zulkifly terus berhubungan dengan teman-temannya baik yang tinggal di Jakarta [seperti Daniel Dhakidae, Parakitri Simbolon dan Djohan Effendi] maupun yang tinggal di Yogya [seperti Fauzie sendiri, Imam Yudotomo dan Ashadi Siregar] untuk perjuangan demokrasi.

Dalam proses bersama-sama teman-temannya di Jakarta inilah Zulkifly bertemu dengan Th Sumartana dan akhirnya sepakat mendirikan Interfidei. “Kira-kira begitulah alurnya, sehingga ada Interfidei”, papar Fauzie.  Untuk menguatkan wacana demokrasi, Zulkifly sempat dikirim untuk belajar tentang HAM di Hongkong dan Eropa

Sepanjang hidupnya, Zulkifly Lubis berjuang untuk demokrasi dan kemanusiaan.  Di atas kemanusiaan lah ditempatkan demokrasi: demokrasi politik, demokrasi ekonomi, demokrasi kebudayaan dan demokrasi sosial. “Demokrasi yang berlandaskan kemanusiaan ini menjadi pandangan hidup kita, cara hidup kita, bagaimana kita beragama, berbuat, cari makan, itu semua saling mempengaruhi”, pungkas Fauzie.

Selanjutnya dilakukan sesi Tanya Jawab yang pada intinya mempertegas kembali sosok Zulkifly Lubis yang merupakan pribadi yang unik yang seharusnya dijadikan teladan oleh generasi muda saat ini. Beliau adalah seorang yang mempunyai sikap tegas, konsisten dan seorang tokoh yang selalu berpijak pada bumi. Zulkifly adalah seorang yang hidupnya sederhana dan seorang idealis tapi mau kerja teknis karena dia yakin bahwa kerja teknis tidak kalah mulianya dengan kerja besar. Beliau adalah aktivis pro demokrasi yang terus menjalankan aktivisme nya dalam berbagai situasi hingga akhir hayatnya.

Dalam sesi ini juga sekaligus menegaskan kembali kontribusi Zulkfily Lubis yang cukup besar dalam gerakan mahasiswa di era 60 dan 70 an untuk menumbangkan Orde Lama sekaligus sangat kritis terhadap Orde Baru. Semua perjuangan yang dilakukan Zulkifly dan teman-temannya adalah dalam rangka mewujudkan cita-cita bersama yakni “menegakkan demokrasi dengan landasan kemanusiaan”.

Dalam konteks pendidikan kritis, Zulkifly Lubis mencontohkannya langsung dalam sikap dan kehidupan pribadi dan keluarganya. Hal-hal yang sederhana dalam kehidupan sehari-hari harus disikapi dengan kritis dalam bingkai bersikap dan berpikir yang terbuka dan pluralis.

Sebagai penutup Faruk HT memberi tekanan penting kepada para mahasiswa akan perlunya mengembangkan kultur kritis, termasuk kepada pendidikan kritis, dengan pertama-tama bagaimana mahasiswa mempunyai idealisme. “Idealismenya tentu saja idealisme yang berhubungan dengan keinginan untuk kesejahteraan bersama, untuk kehidupan bersama, entah itu disebut demokrasi, kemanusiaan, atau itu disebut nasionalisme dan sebagainya”, tegas Faruk. Kedua bagaimana idealisme itu bukan hanya berada di angan-angan, tetapi ada kemauan untuk merealisasikannya. Jika sudah ada kemauan untuk merealisasikannya, maka akan selalu berada dalam suatu situasi yang membuat dia kritis karena dihadapkan dengan tantangan yang cukup banyak.