• SURAT KANGEN BUAT GUS DUR (Berisi LAPORAN situasi terkini SEKALIGUS PERTANYAAN)

    TUESDAY, 06/02/2018 ||00:00:00 WIB img

    Selamat malam, Gus Dur!

    Apa kabar?

    Lama tidak bertemu, juga tidak ngobrol-ngobrol nih.

    Lama juga kita tidak duduk-duduk, nongkrong di Interfidei sambil ngemil tahu dan tempe.

    Ada banyak cerita menarik di Republik kita ini, sekarang, Gus.

    Menariknya karena bikin kita pusing kepala,

    Bikin kita terheran-heran, gelisah, marah, .......wes macam-macam deh.

    Ya-itu, yang dulu Gus Dur bilang ....”gitu aja koq repot!”

    Syukurlah, nafas kita panjang, semangat kita tetap kokoh.

    Sekalipun dompet kita tetap morat-marit. Tapi iman kita tetap kuat, Gus Dur.

     

    Ya, sekarang lain, Gus. Benar-benar repot deh. YAKIN!

    Apalagi sudah pakai alat teknologi yang lebih canggih.

    Itu lho...yang merk apple, samsung, oppo, banyak lagi deh...

    Bisa membuat wajah TRUMP yang diskriminatif itu kita tonton tiap hari;

    Bisa membuat bencana alam di pelosok mana pun, segera kita tahu penyebabnya.

    Bisa menghubungkan “yang kiri dengan yang kanan”, sesegera mungkin.

    Besok-besok, boleh jadi bisa menghubungkan kita-kita dengan Gus Dur secara langsung lewat e-TOL......bukan e-KTP yang maha dahsyat dengan korupsinya.

     

    Ceritanya seru-seru lagi. Topiknya macam-macam.

    Mulai dari soal agama “yang diakui dan tidak diakui”,

    Beragama, yang membawa rahmat dan yang tidak membawa rahmat,

    sampai pada soal politik dan berpolitik ala nabrak tiang listrik,

    dan pejabat hukum yang seharusnya membela keadilan dan kebenaran,

    tapi otak dan hati nuraninya lemes di depan dan di dalam tumpukan uang, si mammon yang minta ampun godaannya, lihai, licik,

    dan bisa membaca wajah orang yang mudah lunglai imannya,

    yang tidak peduli bila makna bershalatnya jadi kabur,

    makna berdoanya siang dan malam, hari Jumat atau Minggu,

    jadi layu sebelum berkembang.

     

    Ditambah lagi rentetan cerita dan peristiwa yang penuh dengan serba-serbi kekerasan dan kebencian ..... sediiih banget, Gus.

    Pakai nama sebagai tokoh agama dan atas nama agama lagi,

    Ekspresinya, dalam “aksi damai” lagi ..... KATA MEREKA, sih.

    padahal dibibir saja, tapi lain di hati, apalagi pada sikap dan tindakan. BEDA, Gus.

    Jangan-jangan itu yang dimaksud dengan “PERBEDAAN”, ya?

    LAIN DI BIBIR, LAIN DI HATI, LAIN PULA DALAM AKSI NYATA!

    Alamaaak!

     

    Sekarang ini juga,

    Semakin sering menyaksikan para elit, termasuk yang ngaku-ngaku pimpinan umat beragama, ternyata sarat dengan kepura-puraan, kemunafikan, tidak beretika, tidak juga beradab, padat dengan nafsu jabatan dan kekuasaan serta uang, si mammon yang berlimpah.

    Tak pandang manusia lain, warga masyarakat lain yang punya hak hidup dan kehidupan yang bermartabat, tapi melarat, anak-anak tak bisa sekolah, kesehatan minimalis, gizi buruk, tidak mendapatkan hak-hak hidup beragama yang layak.

     

    Ya, hitung-hitung, isi permasalahan masih banyak yang sama dengan jaman Gus Dur dan para sahib ketika masih hidup.

    Yang heboh sekarang, kalau kita bicara soal perbedaan agama,

    semakin santer juga soal di dalam satu agama, Gus Dur.

    Bayangkan, katanya ada yang sesat, dan ada yang disesatkan terus-menerus. Piye toh?

    Ada yang “tidak benar” maka harus “dibenarkan” sesuai “style” beragama mereka,

    padahal wujudnya kekerasan dan kebencian melulu. Piye toh?

    Itu beragama kayak apa, Gus?

    Mohon jangan bilang lagi.....”gitu aja koq repot”, Gus.

    Ini serius, lho. Paling serius di jagad dunia deh, khususnya di bumi kita Indonesia.

     

    Sekarang, banyak di antara para politikus semakin pintar, licik dan lihai.

    Mereka tidak hanya sekedar memenuhi syarat harus “pintar-pintar”, Gus.

    Bayangkan, sudah terbukti korup dan benar-benar korup berjemaah,

    Eh, syaraf-syaraf malunya putus sudah. Tak ada yang connect lagi deh.

    Bahkan, masih ngajak tenaga medis untuk berbohong,

    Ngajak pembela hukum melakukan kebohongan yang lebih dahsyat

    dari yang umum dan biasanya terjadi.

    Itu pun masih menawarkan diri menjadi justice collaborator.SIALAN!

    Emangnya hukum di negara kita selemah itu?

    Memangnya hukum di negara kita hanya sekokoh tiang listrik yang bisa ditabrak akal-akalan itu?

     

    Nah, sekarang ini juga, ada yang namanya sosial media, Gus.

    Jaman Gus Dur, Romo Mangun, Ibu Gedong Bagoes Oka, Sumartana, kan belum ada...

    u...wes masih kuno. Sekarang canggih-canggih deh.

    Sulit berbohong lagi, apalagi kalau diharuskan bilang :

    “right or wrong is my country”! Tidak bisa lagi.

    Alat canggih ini sangat menolong kita untuk mengatakan :

    “right is right, wrong is wrong, Gus”!

    Walaupun masih sulit membuktikan.

    Ya, syukurlah sudah ada KPK!

    Jadi, memang benar, yang soal adalah pada MANUSIANYA, Gus.

    Korupsi itu kan bukan hanya soal bahasa, kata, tapi soal perilaku, soal gaya hidup.

    Masih ada saja yang serakah di Republik ini. Tidak banyak, tapi yang menjadi korban keserakahan mereka buaaanyak banget.

    Serakah duit, serakah politik, serakah kekuasaan, serakah hidup (seolah-olah) beragama.

     

    Gus Dur,

    Jadi ingat pak Somad,

    Yang suka mempersilahkan saya untuk masuk ke ruang kerja Gus Dur

    di kantor PB-NU di Kramat;

    yang selalu bilang “tidak apa-apa, mbak Elga, masuk saja. Silahkan bertemu Gus Dur.

    Padahal saat itu, Gus Dur sedang ada banyak antrian warga NU yang tiba dengan kereta subuh dari Jawa Timur untuk bertemu Gus Dur’, Ulama mereka yang luar biasa daya magnit pemikirannya karena berakal dan berbudi,

    hati yang tulus untuk menolong,

    hikmat yang bijak untuk memberi jalan keluar,

    tidak hanya  untuk kepentingan kelompok agamanya,

    bahkan tidak hanya kelompok NU-nya,

    tetapi juga kelompok agama yang lain.

    Ya, sosok yang pantas sebagai Ulama, sebagai tokoh agama,

    tokoh masyarakat, bapak bangsa.

    Ulama bagi semua orang, apa pun perbedaan agama, aliran dan denominasi.

    Sosok penguat, pemberi semangat bagi siapa saja warga bangsa ini untuk menjaga, memelihara dan merayakan keutuhan bangsa dalam perbedaan sebagai sunatullah.

     

    Jadi ingat Ibu Gedong Bagoes Oka, perempuan Hindu-Bali yang luar biasa itu, pendiri Ashram Gandhi, penentang gaya hidup korup pemerintah Orde Baru dan anggota DPR/MPR di jaman-nya, juga para perusak alam, lingkungan serta gaya hidup konsumeristis di tanah kelahirannya, di Bali dan di Indonesia umumnya.

     

    Jadi ingat Romo Mangunwijaya, sahib Gus Dur yang senang naik sekuter, pembela rakyat jelata, yang tidak pernah takut pada kekejaman dan tipu muslihat rejim orde baru dengan kekuatan militeristiknya.

     

    Tiga karib ini pada jaman mereka,

    bak kekuatan ilahi yang berani menyampaikan suara kenabian,

    memberi banyak contoh konkrit lewat kehidupan mereka,

    perihal keadilan, kebenaran, damai yang sungguh-sungguh damai bagi semua orang.

     

    Begini, jujur saja Gus.

    sejak Gus Dur pergi, kami kesepian, bahkan kehilangan.

    Kesepian, karena guyonan Gus Dur yang selalu bermuatan kritik, positif, nan menghidupkan itu hampir-hampir tidak terdengar lagi,

    Ya, ada sih dalam tulisan, dalam perbincangan,

    Tapi, asyiknya kalau Gus Dur yang katakan, Gus Dur juga melakukan.

    Antara ucapan dan tindakan, konsisten, jelas, nampak

    dan maknanya dialami oleh banyak orang.

    Ya, Gus Dur pantas sebagai tokoh agama, ulama asli – tulen lagi.

    Bukan tokoh yang banyak bicara dan seolah-olah pluralis tapi.....aduh....parah, Gus.

    Ada yang begitu, Gus. Ya, Gus Dur tahu-lah.

    Di sini bilang begini, di sana menjaminkan begitu.

     

    TAPI, ada juga yang masih sangat waras dan menggembirakan, Gus.

    Masih ada yang pantas disebut tokoh agama dan patut menjadi teladan kami, Gus Dur.

    Membuat kami tetap bersemangat dan tetap serius untuk memperkuat kehidupan rakyat serta bangsa dan negara ini. Untuk menjadikan perbedaan sebagai kekuatan bangsa yang membawa rahmat. Masih ada, Gus!

     

    Banyak perubahan di kalangan mahasiswa, Gus.

    Bukan hanya gaya hidup, tapi gaya belajar , gaya gaul, juga.

    Maklum, ini sedang trend yang namanya “jaman NOW”, Gus.

    Kalau demo, hampir-hampir tidak turun ke jalan kayak dulu, tapi masuk ke caffee bawa android, samsung, apple, oppo, .... keren Gus. Teknologi canggih.

    Gaya demonya berubah dan enteng, tidak perlu berjemur di terik matahari.

    Tidak perlu cari nasi bungkus, karena di caffee ada kentang goreng, ada pizza,

    Cukup membuat HOAX, mantap Gus Dur.

    Bikin banyak orang pusing, tensi darahnya naik-turun.

     

     

    Tapi, Gus Dur,Tenang aja.

    sekalipun gelisah, kami tetap semangat, optimis dan selalu berusaha bisa kompak,

    berpikir positif dan maju.

    Kami tidak takut pada kekuatan apa pun, dari siapa pun, dimana pun,

    Apalagi yang mengandalkan kekerasan, kebencian, tipu-muslihat, dan angka-angka mayoritas-minoritas sebagai andalan mencapai kehormatan

    karena gila hormat, gila kuasa dan gila uang.

     

    Kami yakin, tidak ada kekuasaan atas nama apa pun yang mampu mematikan semangat kehidupan kami yang selalu berusaha menghidupkan semua orang,

    tak pandang perbedaan.

    Yang selalu berusaha untuk menjadikan bangsa dan negara kita ini,

    tetap kuat, satu dan berdasarkan Pancasila.

    Kami tetap mau konsisten dengan komitmen kami untuk memperkuat genggaman dan pelukan kebersamaan dan persaudaraan kami,

    sekalipun berbeda agama, berbeda aliran, denominasi, berbeda etnis.

    Kami berusaha selalu menjaga integritas kami, dan tidak tergiur , menjadi lemes di hadapan jabatan, kuasa dan si mammon yang memecah-belah dan pengkhianat itu.

     

    Gus Dur, ada pertanyaan nih,

    Beragama itu sebenarnya gimana sih?

    Katanya mau mencari keadilan, tapi pakai kekerasan, kebencian, lewat HOAX lagi?

    Katanya mau menciptakan damai, kok senangnya mengganggu orang yang mau menjalankan ibadah?

    Katanya membela agama. Megapa koq agama yang dibela, bukan misi agama : keadilan,

    kebenaran dan kedamaian yang dibela dan diperjuangkan? Piye sih?

     

    Gus Dur,

    Saya anggap kita lagi bercerita di ruang sempit kantor PB-NU lama, atau melalui telpon pada waktu subuh, jam 4 atau 5.

    Masih panjang cerita dan pengalaman baru sih. Tapi sudah panjang, nanti panitia ngomel.

    Sampaikan salam saya buat sahib-sahib Gus Dur yang selalu menghargai perbedaan itu ya.

    Salam buat Ibu Gedong, Romo Mangun, pak Assegaf, pak Sumartana, pak Djohan, dan lain-lain.

    Kami yakin, keadilan dan damai sedang mendekat.

    Selamat merayakan perbedaan di sana, Gus Dur!

    Kami juga sedang merayakan perbedaan dan tetap akan merayakannya sepanjang hidup kami,

    Perbedaan Tuhan punya, Perbedaan adalah kita semua untuk Indonesia yang adil, beradab dan damai.***

     

    Yogyakarta, Senin, 05-02-2018

    Tegalmindi, Pondok sagu, pagi

    hari di waktu hujan deras bonus

    angin kencang.

     

    Elga J. Sarapung

    Belajar banyak dari Gus Dur,

    Pendeta, aktivis gerakan agama-agama

    untuk keadilan, kebenaran dan perdamaian.

    Direktur Institut DIAN/Interfidei.

Artikel terkait disukai 

POSTING TERBARU

STATISTIK PENGUNJUNG

 Visitor Today : 108
 Total Visitor : 108956
 Hits Today : 167
 Total Hits : 343837
 Visitor Online : 2